Laman

Rabu, 20 April 2011

Naskah Drama: Sejarah


Pada tahun 1525 (1560) Kangjeng Dalem Aria Wangsa Gofarana di Negara Sagalaherang baru menganut islam. Beliau mempunyai 4 (empat) orang anak

Rd. Aria Wiratunudatar Dalem Cikundul ke-I putra 14, pada tahun itu Dalam Rd. Wiratanudatar I bertapa di atas batu besar di Negara Sagalaherang selama 40 hari. Lalu, beliau kedatangan oleh putri jin yang sangat cantik.


Putri Jin                       : “Entah apa yang menarik saya datang kehadapan tuan?”
Rd. Wiratanu I                        : “Entahlah, saya pun tak tau apa yang membuatmu datang
  kehadapanku. Saya sendiri tak tau siapa gerangan?”
Putri Jin                       : “Saya hanya seorang perempuan yang tertarik akan
  ketampananmu dan keperkasaanmu.”
Rd. Wiratanu I            : “Apa mungkin hanya itu yang menjadi alasan engkau datang
  kehadapanku?”
Putri Jin                       : “Entahlah, saya hanya melihat tuan dan saya merasa ada yang
  aneh dalam diri saya.” (berkata sambil berdiri)
Rd. Wiratanu I                        : “Seorang putri secantik dirimu berada di tempat seperti ini
  rasanya tidak mungkin, bila tidak bersama para pengawalnya.”
Putri Jin                       : “Jangankan untuk datang kehadapanmu, untuk membuat istana  
  yang megah pun saya sanggup.”
Rd. Wiratanu I                        : “Sungguh apa yang kau katakan itu tidak masuk akal.”
Putri Jin                       : “Janganlah engkau takut akan kehadiranku.”
Rd. Wiratanu I                        : “Hanya katak sawah yang mungkin takut akan semua itu.”

Beberapa lama setelah pertemuan itu, Rd. Wiratanu I mengajak Putri Jin untuk menjadi istrinya.

Rd. Wiratanu I                        : “Mungkin benar saya baru mengenalmu, namun saya yakin untuk
  menjadikanmu sebagai istriku.” (sambil menatap wajah Putri dan
  menggenggam tangannya)
Putri Jin                       : “Sungguh saya sangat tersanjung.”
Rd.  Wiratanu I           : “Jadi, apakah engkau menerima?”
Putri Jin                       : “Tentu, namun saya minta satu permohonan.”
Rd. Wiratanu I                        : “Apa yang Putri inginkan?”
Putri Jin                       : “Jika nanti kita mempunyai keturunan, jangan pernah sekali pun
  mengayunnya dengan ayunan kain.”
Rd. Wiratanu I                        : “Baiklah, akan saya lakukan.”

Setelah menikah, batu besar tadi menghilang tanpa jejak dan berdirilah sebuah istana yang sangat indah. Lalu, Dalam Aria Wiratanu I menetap disana hingga beliau dikaruniai 4 (empat) orang anak yang bernama Rd. Suryakancana, Nyi Rd. Carancang Kancana, Nyi Rd. Inang Kancana, Rd. Anda Kawira Sajagat.

Pada suatu hari, Rd. Wiratanu I  mempunyai keinginan untuk memperistri seorang putri keturunan manusia. Lalu, keinginannya tersebut diketahui oleh istrinya yang bijaksana.

Putri Jin                       : “Saya mengerti apa yang Kakanda inginkan, Kakanda
  menginginkan kembali ke asal, ingin memperistri manusia.”
Rd. Wiratanu I                        : “Sebenarnya…”
Putri Jin                       : “Sesungguhnya, ada yang ingin saya sampaikan. Sebenarnya pun
Ayah telah berpesan, bahwasannya Kakanda akan mempunyai   
keturunan manusia, serta turunan Kakanda akan unggul   
kepintarannya dunia-akhirat. Namun, yang akan menjadi Bupati
hanya 8. Begitu Pesan yang disampaikan oleh Ayahanda.”  
Raden Wiratanu I       : “Syukurlah kalau beliau berpesan seperti itu.”

Diantara putranya yaitu Rd. Suryakancana, menetap di Gunung Gede lalu diangkat sebagai Sultan hingga saat ini.

Putri Jin dan Keraton Rd. Wiratanudatar, menghilang tanpa jejak, kembali ke semula. Beliau tinggal di atas batu besar kembali.

Rd. Wiratanu I            : (membaca dua kalimat syahadat)    

Di atas batu besar tersebut, Dalam Aria lalu bertafakur kembali kepada Allah SWT. Setelah selesai, Dalam Aria cepat-cepat menuruni batu besar tersebut dan pulang menemui anaknya.

Sesampainya di rumah, beliau menceritakan kepada anaknya apa yang telah ia alami.

Setelah itu, lalu beliau berpamitan kepada ayahnya Kangjeng Aria Wangsa Gofarana.

Rd. Wiratanu I             : “Baginda, Hamba akan pergi meninggalkan Sagalaherang.
Rd. Aria Wangsa         : “Baiklah anakku, bila kepergianmu itu adalah jalan yang terbaik,
                                       aku akan ijinkan.”

Lalu, Dalam Aria Wiratanu I pergi meninggalkan Salaherang bersama keluarga dan rakyatnya sebanyak 40 orang. Mereka menuju ke suatu tempat, lalu bermukim disana.

Rd. Wiratanu I            : “Wahai rakyatku, karena hari sudah mulai gelap sebaiknya
malam ini kita bermukim disini. Besok pagi kita lanjutkan perjalanan kita.”
Rakyat                        : “Baik tuanku.”

Pagi harinya, mereka melanjutkan perjalannya ke arah barat, dan terkadang berhenti sejenak untuk beristirahat dan menenangkan pikiran

Rd. Wiratanu I           : “Rakyatku, sebaiknya kita beristirahat sejenak untuk
menenangkan pikiran.
Rakyat                       : “Baiklah tuan.”

Setelah selesai beristirahat, mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka terus berjalan ke arah barat dan menyempatkan diri untuk menemui Dalam Surya Kancana di gua Gunung Gede.
Lalu, Kangjeng Aria meneruskan kembali perjalanannya, dan sampailah mereka di Sungai Citarum. Beliau mandi di sana dan bertafakur kembali di hulu sungai Citarum selama 1 tahun.

Rd. Wiratanu I           : (berdzikir kepada Allah SWT) “Mudah-mudahan mendapat taufiq
                                     hingga bisa mendapat rahasia dzikirullah.”

Setelah itu, mereka melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke hulu sungai, sampai ke muara Citarum di laut utara. Disitu, beliau bertafakur kembali. Ketika beliau sedang mandi di Citarum, rambutnya jatuh namun tidak mengalir ke hulu sungai seperti biasanya.

Rd. Wiratanu I           : (heran) “Apa ini rahasia dzikirullah?”

Dalam Aria Wiratanudatar I meninggal pada tahun 1550 berumur 102 tahun. Selur keluarga dan rakyatnya sedih, lalu mereka kembali ke Cikadu Cibalagung setelah menguburkan Dalam Aria Wiratanudatar I di Cikalongkulon Cianjur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar